Selasa, 13 Desember 2016

RESUME METODOLOGI STUDIES ISLAM KARYA Dr Limas Dodi M,hum

BAB I
PENGERTIAN, URGENSI, DAN SIGNIFIKANSI METODOLOGI STUDI ISLAM


Pengertian Urgensi dan Signifikansi Metedologi Study Islam
Metodologi adalah metode atau cara-cara yang berlaku dalam kajian atau penelitian.Metodologi berguna untuk membantu sesorang dalam mengembangkan keilmuan yang di milikinya dan mengadakan pemahaman keislaman secara utuh dan komprehensif. Metode yang di gunakan untuk memahami islam ada dua macam, yang pertama metode komparansi yaitu suatu cara memahami agama dengan membandingkan seluruh aspek yang ada dalam agama islam tersebut dengan agama lainnya.
Ruang Lingkup Studi Islam
            Studi islam merupakan suatu disiplin ilmu yang ruang lingkup studi keislaman dalam tradisi sarjana barat meliputi pembahasan tentang ajaran, pemikiran, teks, sejarah, dan institusi keislaman.
            Kedudukan MSI jika ditelusuri topik pembahasannya tidak lain adalah “akumulasi” dari kajian-kajian substansi keislaman yang materi intinya bersifat dasar (pengantar). Kedudukan studi islam sangatlah penting peranannya karena studi islam merupakan disiplin ilmu yang menerangkan dasar seseorang dalam beragama. Mempelajari metodoligi studi islam juga di harapkan mampu memberikan pedoman dan pegangan hidup bagiumat islam agar tetap menjadi muslim yang sejati.
Islam Sebagai Objek Kajian
            Pemikiran Islam terpotret bagaimana pemikiran peminat studi Islam memberi andil kreatif dan signifikan terhadap bangunan pemahaman ajaran Islam dalam berbagai dimensinya.Pemikiran ini menghasilkan berbagai jenis pengetahuan Islam.Disinilah kemudian agama terinstitusionalkan dan menjadi menarik untuk dikaji karena sebelumnya hanya bisa dilakukan dengan mengadakan penyelidikan yang mendalam mengenai al-Qur’an dan hadist menjadi bisa dipelajari dari banyak sudut pandang.
           
Islam Normatif dan Historis
            Islam normative merupakan agama yang di dalamnya berisi ajaran Tuhan yang berkaitan dengan akidah dan muamalah. Sedangkan islam historis adalah islam yang tidak bisa dilepaskan dari sejarah dan kehidupan manusia yang berada dalam ruang dan waktu. Islam historis merupakan unsur kebudayaan yang di hasilkan oleh setiap pemikiran manusia dalam interpretasi atau pemahamannya tehadap teks, maka islam pada tahap ini terpengaruh bahkan menjadi sebuah kebudayaan.
           

BAB II
PENGANTAR STUDI ISLAM


Studi islam sebagai disiplin ilmu
            Dilihat dari segi normatif islam merupakan agama yang tidak dapat diberlakukan kepadanya paradigma ilmu-ilmu pengetahuan yaitu paradigma analitis, kritis, metodologis, historis, dan empiris. Studi islam adalah pengetahuan yang di rumuskan dari ajaran islam yang dipraktekkan dalam sejarah dan kehidupan manusia. Sedangkan pengetahuan agama adalah pengetahuan yang sepenuhnya diambil dari ajaran-ajaran Allah dan RosulNya secara murni.Sebagai agama islam lebih bersifat memihak, romantic, apologis, dan subjektif. Sedangkan jika dilihat dari segi historis, yakni islam dalam arti yang di praktikan oleh manusia serta tumbuh dan berkembang dalam kehidupan manusia maka islam dapat di katakana sebagai sebagai di siplin ilmu, yakni ilmu ke-islaman, Islamic studies, atau dirasah islamiyah.
Pertumbuhan dan Objek Studi Islam
            Studi islam sekarang berkembang hamper di seluruh Negara di dunia, baik islam maupun yang bukan islam.
Sejarah Metode dan Pendekatan Studi Islam
            Metode terbaik untuk memperoleh pengetahuan adalah metode ilmiah, untuk memahami metode ini terlebih dahulu harus mengetahui pengertian ilmu.Ilmu adalah pengetahuan yang sistematik.Ilmu mengawali penjajahannya dari pengalaman manusia dan berhenti pada batas pengalaman itu. Metode Studi Islam dibagi menjadi 2, yang pertama metode komparasi, yaitu suatu cara memahami agama dengan membandingkan seluruh aspek yang ada dalam agama islam tersebut dengan agama lainnya. Kedua, metode sistesis, yaitu suatu cara memahami islam yang memadukan antara metode ilmiah dengan segala cirinya yang rasional, objektif, kritis, dan seterusnya dengan metode teologis normatif. Metode ilmiah di gunakan untuk memahami islam yang Nampak dalam kenyataan historis, empiris, dan sosiologis. Sedangkan metode teologis normatif digunakan untuk memahami islam yang terkandung dalam kitab suci.


BAB III
PENELITIAN AGAMA


Pengertian Penelitian Agama
            Secara umum penelitian diartikan sebagai suatu proses pengumpulan dan analisis data yang dilakukan secara sistematis dan logis untuk mencapai tujuan tertentu. Sedangkan penelitian agama adalah mencari, menelaah, meneliti, serta menemukan jawaban atas permasalahan dan pernyataan seputar keyakinan manusia kepada sebuah kekuatan diatas kekuatan manusia yang mana kekuatan tersebut diekspresikan dalam bentuk penyembahan dan pengabdian serta sesuatu
Agama Sebagai Obyek Penelitian
Agama sebagai obyek kajian atau penelitian karena agama merupakan bagian dari bagian kehidupan sosial kultural.Jadi penelitian agama bukanlah meneliti hakikat agama dalam arti wahyu, melainkan meneliti manusia yang menghayati, meyakini dan memperoleh pengaruh dari agama. Dengan demikian kedudukan penelitian agama adalah sejajar dengan penelitian-penelitian lain, yang membedakannya hanyalah objek kajian yang ditelitinya.
Penelitian Keagamaan
            Penelitian keagamaan adalah penelitian tentang praktik-praktik ajaran agama yang dilakukan oleh manusia secara individual dan kolektif.
Kontruksi Penelitian Agama
            Dalam hal ini ada 3 macam istilah dalam mendekati agama, yaitu
1.      Unsur-unsur atau aspek-aspek yang sama
2.      Orde, diberi tafsiran yang berbeda-beda:
a.       Orde Kosmos
Disini yang paling penting keselarasan dengan kosmos sekitarnya.Kesejahteraan kosmos harus dijaga.
b.      Orde Hukum Etis
Yang dipentingkan disini adalah akhlak kehendak Tuhan untuk tingkah laku manusia terhadap Tuhan dan sesamanya.Jika peraturan ini dilanggar, maka manusia berbuat dosa atau kejahatan.
3.      Tiap-tiap agama dan keyakinan tentang keterokan-keterokan atau kegagalan, ada kekurangan dan tidak kesempurnaan.


BAB IV
AGAMA SEBAGAI IDEOLOGI DAN DOKTRIN


A.  Ideologi
1.    Pengertian Ideologi
Ideologi berasal dari bahasa Yunani yaitu edios yang artinya gagasan dan logos yang artinya ilmu.Pengertian ideologi secara umum adalah sekumpulan ide, gagasan, keyakinan dan kepercayaan yang menyeluruh dan sistematis.
2.    Prinsip-prinsip ideologi
Prinsip-prinsip Ideologi dapat diuraikan sebagai berikut:
a.    Nilai yang menentukan seluruh hidup manusia
b.    Gagasan yang diatur dengan baik tentang manusia dan kehidupannya.
c.    Kesepakatan bersama yang membuat nilai dasar masyarakat dalam suatu Negara
d.    Pembangkit kesadaran masyarakat akan kemerdekaan
e.    Gabungan antara pandangan hidup yang merupakan nilai-nilai-dari suatu bangsa serta dasar Negara yang memiliki nilai-nilai falsafah yang menjadi pedoman hidup suatu bangsa.
B.  Pengertian Doktrin
Kata doktrin berasal dari bahasa inggris doctrine yang artinya ajaran. Istilah doktrin biasanya berhubungan dengan dua hal: pertama, sebagai penegas suatu kebenaran, dan kedua berkaitan dengan ajaran. Keduanya tidak dapat dipisahkan sebab menegaskan kebenaran adalah melalui ajaran, sedangkan yang diajarkan berkaitan dengan kebenaran.
C.  Agama sebagai Doktrin
Berdasarkan yang dikemukakan dalam pengertian di atas, yang dimaksud doktrin agama adalah suatu kepercayaan kepada Tuhan, suatu iktan, kesadaran, dan penyembahan secara spiritual kepada-Nya.Banyak orang berpandangan bahwa doktrin agama bersumber dari wahyu, dan agama diperuntukkan bagi manusia.Karena agama bersumberkan pada wahyu, berarti kebenaran yang muncul bernilai mutlak. Pada sisi lain, manusia adalah makhluk pencari kebenaran.

D.  Islam sebagai Doktrin
Yang dimaksud Islam sebagai doktrin adalah memandang bahwa Islam sebagai wahyu Allah sebagaimana ajarannya terdapat dalam al-Qur’an dan al-Sunnah yang diyakini kebenarannya dan bersigat mutlak.Doktrin Islam yang paling pokok adalah trilogy Iman, Islam dan Ihsan.
1. Iman
Iman adalah keyakinan terhadap adanya Allah dengan Ke-Esaan-Nya, Malaikat, pertemuan denganNya, para utusan-utusanNya dan percaya pada hari kebangkitan.
2. Islam
Islam adalah ketataan dalam menyembah kepada Allah, tidak musyrik, melaksanakan perintah dan menjauhi lanrangan-Nya.
3. Ihsan
Ihsan adalah menurut penjelasan Nabi SAW yaitu “Engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, jika tidak maka sesungguhnya dia melihatmu.”
E.  Bentuk-bentuk Penyikapan Doktrin
Menurut Raimundo Panikkar ada tiga menyikapan kebenaran agama, yaitu:
1.    Eksklusivisme
    Sikap eksklusivisme menganggap bahwa ajaran yang paling benar ialah ajaran pada agama yang dipelukknya, sedangkan agama lain wajib dimusnakan.
2.    Inklusivisme
Sikap inklusivisme menganggap bahwa di luar agama yang dipeluknya juga terdapat kebenaran meskipun tidak sesempurna agama yang dipeluknya.
3.    Pluralisme
Sikap pluralism memiliki sikap menyamakan dan menyejajarkan semua kebenaran agama, sekalipun pada dasarnya memiliki perbedaan.



BAB V
AGAMA SEBAGAI PRODUK BUDAYA


A.  Pengertian Kebudayaan
Kebudayaan adalah hasil daya cipta manusia dengan menggunakan dan mengerahkan segenap batin yang dimilikinya. Ilmu mengenai kebudayaan secara garis besar dibagi menjadi dua ruang lingkup, yaitu:
1.    Berbagai aspek kehidupan yang mengungkapkan masalah kemanusiaan dan budaya dapat didekati dengan pengetahuan budaya
2.    Hakikat manusia yang satu, tetapi beragam perwujudannya dalam budaya setian zaman dan tempat.
B.  Agama sebagai Sasaran Penelitian Budaya
Agama sebagai sasaran penelitian budaya berarti menggunkan pendekatan penelitian yang lazim digunakan dalam penelitian agama.Yang termasuk penelitian budaya misalnya penelitian tentang naskah-naskah, alat-alat ritus keagamaan, benda-benda purbakala agama, sejarah agama, nilai-nilai dari mitos yang dianut oleh pemeluk agama dan sebagainya.Dalam hal ini bila agama telah menjadi bagian dari kebudayaan maka agama juga menjadi bagian dari nilai-nilai budaya dari kebudayaan tersebut. Dengan demikian, berbagai tindakan yang dilakukan masyarakat dalam pemenuhan kebutuhan hidupnya juga akan berlandaskan pada etos agama yang dianutnya.
C.  Pendekatan Kebudayaan dalam Kajian Agama
Pendekatan kebudayaan digunakan untuk memahami corak keagamaan dan menambah keyakinan yang dimiliki oleh suatu masyarakat sesuai dengan ajaran yang benar. Ada empat cirri fundamental cara kerja pendekatan antropologi terhadap agama. Pertama, bercorak descriptive, maksudnya yaitu dilakukan dengan pengamatan yang serius dan terstruktur.Kedua, dilihat secara local practices, yaitu praktik konkrit dan nyata di lapangan.Ketiga, selalu mencari hubungan dan keterkaitan antara berbagai ruang kehidupan secara lebih utuh.Keempat, bersifat comparative, yaitu memerlukan perbandingan dari berbagai tradisi, social, budaya, dan agama.


BAB VI
AGAMA SEBAGAI PRODUK INTERAKSI SOSIAL


A.  Agama sebagai Produk Interaksi Sosial
Interaksi social yaitu hubungan timbal balik antara individu dengan individu, individu dengan masyarakat, serta individu dengan lingkungannya yang dapat mengakibatkan terjadinya perubahan sosial.Agama sebagai gejala sosial berhubungan pada konsep sosiologi agama yang dalam hal ini mempelajari hubungan timbal balik antara agama dan masyarakat.Penelitian dengan menempatkan agama sebagai hasil interaksi sosial sebagai obyeknya bisa dilakukan dengan pendekatan yang umumnya dilakukan di studi sosial.
B.  Penelitian Eksperimental
Penelitian eksperimental merupakan suatu penelitian dengan menggunakan variabel-variabel tertentu dalam mempelajari hubungan sebab-akibat terhadap suatu masalah.
Penelitian eksperimental memiliki beberapa cirri, yaitu:
1.    Adanya perlakuan untuk melihat pengaruh variabel bebas terhadap veriabel pengikat.
2.    Adanya teknik-teknik tertentu yang digunakan untuk mengendalikan berbagai variabel yang diduga akan mempengaruhi variabel terikat diluar variabel yang sedng dikaji.
3.    Adanya unit-unit eksperimen atau beberapa kelompok manusia yang menjadi objek kajian.
C.  Pengamatan dan pengamatan terlibat
Pengamatan merupakan bagian penting dari pengumpulan data, yaitu untuk meningkatkan kepekaan peneliti dari operasionlaisasi teknik pengumpulan data yang lain, terutama teknik wawancara. Sedangkan pengamatan terlibat dilakukan untuk melihat bagaimana cara informan memilih sebuah tindakan tertentu dalam setiap aktifitasnya. Pada dasarnya pengamatan terlibat selalu melibatkan dua hal pokok yaitu tentang apa yang dilakukan oleh orang dan apa yang dikatakan oleh orang.
D.  Penelitian Survey dan Analisis Statistik
1.    Penelitian Survey
Penelitian survey adalah salah satu metode penelitan yang umumnya mengkaji populasi yang besar dengan menggunakan sampel populasi yang bertujuan untuk membuat deskripsi, generalisasi, atau prediksi tentang pendapat, perilaku, dan karakteristik yang ada dalam populasi tersebut. Dalam sebuah penelitian, analisis survey bertujuan untuk penjagaan, deskriptif, penjelasan, evaluasi, prediksi, penelitian operasional, dan pengembangan indikator-indikator sosial.


2.    Analisis Statistik
Bentuk data analisis statistik adalah kuantitatif dan kualitatif.Data kualitatif adalah data yang disajikan dalam bentuk kata.Sedangkan data kuantitatif adalah data yang dikumpulkan tentang variabel objek berupa angka.
E.   Analisis Data
Analisis data adalah proses menyusun data agar data tersebut dapat ditafsirkan. Analisis data ini dapat dilakukan dalam tiga tahap berikut ini:
1.    Analisis data selama pengumpulan data
Kegiatan ini dapat dimulai setelah peneliti memahami fenomena sosil yang sedang diteliti dan setelah mengumpulkan data yang dapat dianalisis.
2.    Reduksi Data
Dara tersebut direduksi, dirangkum, dipilih hal-hal pokok, dan difokuskan pada hal-hal yang penting dan berkaitan dengan masalah.
3.    Display Data
    Kegiatan ini dapat dilakukan dengan cara membuat model, matriks atau grafiks sehingga keseluruhan data dan bagian-bagian detailnya dapat dipetakan dengan jelas.
4.    Penarikan kesimpulan dan verifikasi
    Data yang sudah dipolakan akan disusun secara sistematis, kemudian disimpulkan sehingga makna data tersebut dapat ditemukan. Namun kesimpulan itu hanya sementara.Agar kesimpulannya sempurna maka dilakukan verifikasi data tersebut dengan melakukan pengujian terhadap kesimpulan data.


BAB VII
ISLAM SEBAGAI SASARAN STUDI DOKTRINAL


A.  Islam sebagai Doktrin
   Kata doktrin berasal dari bahasa Inggris doctrine yang berarti ajaran.Dari kata doctrine itu kemudian dibentuk kata doktrinal, yang berarti yang berkenaan dengan ajaran atau bersifat ajaran.Selain kata doctrine sebagaimana disebut di atas terdapat kata doctrinaire yang berarti bersifat teoritis yang tidak praktis.
Studi doktrinal ini berarti studi yang berkenaan dengan ajaran atau studi tentang sesuatu yang bersifat teoritis dalam arti tidak praktis.Karena ajaran ini belum dijadikan dasar dalam berbuat atau mengajarkan sesuatu.Berkenaan dengan Islam sebagai sasaran objek studi doktrinal berarti studi doktrinal yang dimaksud adalah studi Islam dari teori-teori yang dikemukaan oleh Islam.

B.  Ruang Lingkup Doktrin Islam
Islam merupakan agama yang sangat multidimensi yang dapat dikaji dari berbagai aspek baik dari tinjauan budaya-sosial maupun dari aspek doktrin agama Islam. Apabila ditelaah dari aspek doktrin maka akan muncul ajaran-ajaran dalam agama Islam yang bisa saja ajaran tersebut tidak dapat diganggu gugat keberadaannya. Dimana sumber ajaran islam adalah al-Qur’an dan al-Sunnah diantaranya membahas trilogy doktrin Islam yang biasa dikenal dengan Iman, Islam, dan Ihsan. Kemudian trilogy berkembang menjadi tiga kerangka dasar Islam yang digunakan dalam tiga pemikiran Islam yaitu Aqidah, Syariah, Akhlak.

C.  Model Penelitian Islam sebagai Doktrin
1.    Model Penelitian Tafsir
Tafsir adalah suatu ilmu untuk memahami Kitab Allah SWT.Yang diberikan kepada Nabi Muhammad SAW.dan merupakan penjelas makna-makna serta kesimpulan hikmah dan hukum.
a.    Model Quraish shihab
Model penelitian tafsir yang dikembangkan oleh shihab yang merupakan model penelitian yang berupaya menggali sejauh mungkin produk tafsir yang dilakukan ulama-ulama tafsir terdahulu.
b.    Model al-Shirbbasyi
Sumber yang digunakan oleh Asy Shirbbasyi adalah bahan-bahan bacaan dan kepustakaan yang ditulis oleh para penafsir.
c.    Model al-Ghazali
Model penelitian tafsir yang dikembangkan oleh Al-Ghazali bersifat eksploratif, deskriptif, analisis dengan berdasarkan pada rujukan kitab-kitab yang ditulis ulama terdahulu.

2.    Model Penelitian Hadits
Dalam melakukan penelitian terhadap hadits, ada beberapa model penelitian yang bisa dilakukan yaitu:
a.    Takhrij hadits
Takhrij adalah menunjukkan atau mengemukaan letak asal hadits pada sumbernya yang asli.
b.    I'tibar
Al-I'tibar berarti menyertakan sanad-sanad untuk hadits tertentu agar terlihat jelasseluruh jalur sanad yang diteliti.
c.    Kritik Sanad
Dalam hal iniyang perlu dikritisi adalah kepribadian periwayat hadits untuk diketahui apakah riwayat hadits yang dikemukakannya dapat diterima sebagai hujjah ataukah harus ditolak.
d.    Kritik Matan
Metode kritik matan, menurut al-A'zhami, banyak terfokus pada metode mu'aradhah yakni pencocokan konsep yang menjadi muatan pokok setiap matan hadits, agar tetap terpelihara keselarasan antara konsep dengan hadits lain dengan dalil syariat lain.


BAB VIII
AGAMA SEBAGAI SASARAN STUDI SOSIAL

A.  Islam Sebagai Sasaran Studi Sosial
            Yang dimaksud islam sebagai sasaran studi sosial di sini adalah studi tentang islam sebagai gejala sosial. Hal ini menyangkut keadaan masyarakat penganut agama lengkap dengan struktur, lapisan serta berbagai gejala sosial lainnya yang saling berkaitan. Menurut M. Atho Mudzhar dalam bukunya, ada lima bentuk gejala agama yang perlu diperhatikan dalam mempelajari atau menstudi agama. Pertama, scripture atau naskah-naskah atau sumber ajaran dan simbol-simbol agama.Kedua, penganut atau pemimpin atau pemuka agama, yaitu yang berkenaan dengan perilaku dan penghayatan para penganutnya.Ketiga, lembaga-lembaga dan ibadat-ibadat, seperti shalat, haji, puasa, dll.Keempat, alat-alat seperti masjid, gereja, lonceng, dll.Kelima, organisasi-organisasi keagamaan tempat penganut berkumpul.Agama sebagai gejala sosial bertumpu pada konsep sosiologi agama.
B.  Pandangan Islam terhadap Ilmu Sosial
Islam lebih banyak memperhatikan aspek kehidupan sosial daripada aspek kehidupan ritual.Dibalik kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, dunia modern menyimpan suatu potensi yang dapat menghancurkan martabat manusia.Dalam keadaan demikian, sudah saatnya untuk memiliki ilmu pengetahuan sosial yang mampu membebaskan manusia dari berbagai problema.
C.  Ilmu Sosial Bernuansa Islam
Dewasa ini kita butuh ilmu sosial yang tidak hanya berhenti pada menjelaskan fenomena sosial, tetapi dapat memecahkannya secara memuaskan. Sampai saat ini banyak sekali ilmu sosial yang lebih maju atau lebih baik dari sebelumnya, dengan demikian umat islam akan dapat meluruskan gerak langkah perkembangan ilmu pengetahuan yang terjadi saat ini dan juga dapat meredam berbagai kerusuhan sosial dan tindakan kriminal lainnya yang saat ini banyak mewarnai kehidupan. Pemecahan terhadap hal tersebut salah satu alternatifnya adalah dengan memberikan nuansa keagamaan pada ilmu sosial yang oleh Kuntowijoyo di sebut ilmu sosial yang profetik.
D.  Peran Ilmu Sosial Profetik pada Era Globalisasi
Jika saat ini kita menghadapi kesenjangan sosial yang diakibatkan oleh perbedaan tingkat ekonomi, maka hal tersebut menunjukkan bahwa ilmu sosial yang ada sekarang perlu di tinjau kembali antara lain dengan menerapkan ilmu sosial profetik. Islam berupaya mengikis kesenjangan sosial tersebut dengan melalui berbagai upaya seperti institusi zakat, infak, sadaqah, dan lain-lain.Dengan sifat dan karakteristik ajaran islam maka melalui ilmu sosial yang berwawasan profektik islam siap untuk memasuki era globalisasi. Era globalisasi yang ditandai dengan adanya perubahan bidang ekonomi, teknologi sosial, informasi, dan sebagainya akan dapat diambil manfaatnya dengan sebaik-baiknya, dan dapat dibuang hal-hal yang membahayakan.


BAB IX
ISLAM SEBGAI SASARAN STUDI BUDAYA


A. BUDAYA ISLAMI
Dalam metodologi studi Islam kebudayaan adalah suatu cara berpikir, cara pandang(out look) atau metalitas manusia.

B. Contoh Kajian Budaya dalam Perkembangan Islam di Jawa
Interaksi Islam dengan budaya di jawa melahirkan tiga bentuk keIslaman yang punya dasar pikiran yang berbeda-beda dan kadang memancing konflik antara satu dengan yang lainnya yaitu, Islam Pesantren, Islam kejawen dan Islam Modernis.


C. Islam sebagai Sasaran Studi Budaya
            1. Karakteristik Studi Budaya
             Dalam konteks dinamisasi kebudayan sebuah studi budaya di klasifikasikan menjadi dua, yaitu : Pertama, Budaya implisit merupakan hubungan antar kelompok dan satu kelompok individu yang mengatur dan mengupayakan agar berperilaku sesuai dengan budaya kelompoknya. Kedua, Budaya eksplisit merupakan adopsi budaya dari sekelompok individu dengan budaya yang berbeda.

2. Pendekatan Budaya dalam Memahami Islam
 Penelitian budaya adalah penelitian tentang naskah-naskah (fisologi), alat-alat ritus keagamaan, benda-benda purbakala agama (arkeologi), sejarah agama, nilai-nilai dari mitos-mitos yang di anut para pemeluk agama  dan sebagainya.


BAB X
KARAKTERISTIK AJARAN ISLAM


A. Pengertian Islam Menurut Ajaran
            Secara etimologi, kata Islam berasal dari Bahasa Arab, yakni Aslama, yuslimu islaman  yang berarti keselamatan. Kata ini juga bisa dibentuk dari tiga susunan huruf yaitu sin, lam dan mim.
            Kata Islam menurut istilah adalah mengacu kepada agama yang bersumber dari wahyu yang datang dari Allah SWT., Bukan dari manusia dan bukan pula berasal dari Nabi Muhammad SAW.
            Selanjutnya dilihat dari segi ajarannya, Islam adalah agama yang sepanjang sejarah manusia.Agama dari seluruh nabi dan rasul yang pernah diutus oleh Allah SWT pada bangsa-bangsa dan kelompok-kelompok manusia. Islam itulah agama bagi Adam as, Nabi Ibrahim, Nabi ya’kub, Nabi Musa, Nabi Daud, Nabi sulaiman dan Nabi Isa as. Meskipun nabi tersebut telah menyatakan diri sebagai muslim atau orang yang berserah diri, akan tetapi agama yang mereka anut itu bukan bernama agama Islam. Misi agama yang mereka anut adalah Islam, tetapi Agama yang mereka bawa namanya dikaitkan dengan nama daerah atau nama penduduk yang menganut agama tersebut.

B. Karakteristik Ajaran Islam
            Karakteristik Ajaran Islam adalah suatu karakter yang harus dimiliki oleh setiap umat muslim dengan berpedoman pada al-Qur’an dan Hadits.

Karakteristik Islam dalam konsepsi ajarannya :
1. Dalam bidang akidah
            Karakteristik Islam yang dapat diketahui melalui bidang akidah ini adalah bahwa akidah Islam bersifat murni baik dalam isinya maupun prosesnya.
            Akidah dalam Islam meliputi keyakinan dalam hati tentang Allah sebagai Tuhan yang wajib disembah; ucapan dengan lisan dalam bentuk dua kalimat syahadat yaitu menyatakan tiada tuhan selain Allah, dah bahwa Nabi Muhammad sebagai utusan-Nya; perbuatan dengan amal sholeh. Dengan demikian akidah Islam bukan sekedar keyakinan dalam hati, melainkan pada tahap selanjutnya  harus menjadi acuan dan dalam bertingkahlaku, serta berbuat yang pada akhirnya menimbulkan amal shaleh.
2. Dalam bidang agama
 Menurut Nurcholis Madjid dalam bidang agama, bahwa Islam mengakui adanya pluralisme, pluralisme adalah aturan Tuhan (Sunnah Allah) yang tidak akan berubah, sehingga tidak mungkin untuk dilawan atau diingkari.

3. Dalam bidang ibadah
            Secara harfiah Ibadah berarti bakti manusia kepada Allah SWT, karena didorong dan dibangkitkan oleh aqidah tauhid.Ibadah di bagi menjadi dua yaitu; ibadah umum dan Khusus. Ibadah umum ialah segala amalan yang diizinkan Allah sedangkan yang khusus adalah apa yang telah ditetapkan Allah akan perincian-perinciannya, tingkat dan cara-caranya yang tertentu. Dalam ibadah tidak boleh ada “kreatifitas” sebab yang meng create atau membentuk suatu ibadah dalam Islam dinilai sebagai bid’ah.

4. Dalam bidang pendidikan
            Islam memandang bahwa pendidikan adalah hak bagi setiap orang laki-laki atau perempuan dan berlangsung sepanjang hayat.Dalam bidang pendidikan Islam memiliki rumusan yang jelas dalam bidang tujuan, kurikulum, guru, metode, sarana dan lain sebagainya.

5. Dalam bidang social
            Karakteristik ajara Islam dalam bidang sosia ini, Islam menjunjung tinggi tolong menolong, saling menasehati, tentang hak dan kesabaran, kesetiakawanan, egaliter (kesamaan derajat), tenggang rasa dan kebersamaan.Kualitas dan ketinggian derajat seseorang ditentukan oleh ketakwaaannya yang ditunjukkan oleh prestasi kerjannya yang bermanfaat bagi manusia.

6. Dalam  bidang ekonomi
            Pandangan Islam mengenai kehidupan ekonomi itu dicerminkan dalam ajaran fiqih tentang bagaimana menjelaskan sesuatu usaha taupun ajaran Islam mengenai berzakat juga dalam konteks berekonomi.
7. Dalam bidang kesehatan
            Ajaran Islam memegang prinsip pencegahan lebih baik daripada penyembuhan.Yang dalam bahasa Arab, prinsip ini berbunyi, al-wiqayah khair min al-‘laj.Untuk menuju upaya pencegahan tersebut, Islam menekankan segi kebersihan lahir dan batin.

8. Dalam bidan politik
            Dalam al-Qur’an surat An-Nisa ayat 156 terdapat perintah mentaati ulil amri yang terjemahannya termasuk penguasa dibidang politik, pemerintahan dan Negara. Dalam hal ini Islam tidak menerangkan atau menyuruh ketaatan yang buta tetapi menghendaki suatu ketaatan yang kritis dan selektif.

9. Dalam bidang pekerjaan
            Islam memandang bahwa kerja sebagai suatu Ibadah kepada Allah SWT.  Atas dasar ini maka kerja yang di kehendaki Islam adalah kerja yang bermutu, terarah kepada pengabdian kepada Allah SWT, dan kerja yang bermanfaat bagi orang lain. Untuk menghasilkan produk pekerjaan yang bermutu haruslah dilakukan secara professional, yaitu kerja yang didukung pengetahuan, keahlian, pengalaman, kesungguhan, dan seterusnya.

C. Karakteristik Islam dalam Bidang Ilmu dan Kebudayaan
            Karakteristik Islam dalam bidang ilmu dan kebudayaan bersikap terbuka, akomodatif, tetapi juga selektif. Yakni dari satu segi Islam terbuka dan akomodatif untuk menerima berbagai masukan dari luar, tetapi bersamaan dengan Islam itu juga selektif, yakni tidak begitu saja menerima seluruh jenis ilmu dan kebudayaan melainkan ilmu dan kebudayaan yang sejalan dengan Islam. Demikian pentingnya ilmu hingga Islam memandang bahwa orang menuntut ilmu sama nilainya dengan jihad dijalan Allah.


BAB XI
POSISI SENTRAL AL-QURAN DAN HADIST DALAM STUDI ISLAM

A.    Posisi Al-Qur’an dalam Studi Islam
Secara etimologi (bahasa) Al-Qur’an merupakan masdar dari kata Qara’a mempunyai arti mengumpulkan dan menghimpun, dan qira’ah berarti menghimpun huruf-huruf dan kata-kata satu dengan yang lain dalam suatu ucapan yang tersusun rapi.
Sedangkan secara terminologi Al-Qur’an adalah kalamullah yang diwahyukan kepada nabi Muhammad SAW, sebagai pedoman bagi umat islam yang disampaikan melalui perantara jibril melalui jalan mutawattir yang membacanya dinilai sebagai ibadah yang diawali dengan surat al-fatihah dan ditutup dengan surat an-Naas.
Perbedaan pendapat tentang Al-Qur’an secara etimologi dan terminology:
1.      Safi’ Hasan Abu Thalib menyebutkan bahwa Al-Qur’an adalah wahyu yang diturunkan dengan lafal bahasa arab dan maknanya dari Allah SWT, melalui wahyu yang disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW, ia merupakan dasar dan sumber dasar utama bagi syariat.
2.      Zakaria Al-Birri mengemukakan bahwa Al-Qur’an adalah al-kitab yang disebut Al-Qur’an dalam kalam Allah SWT, yang diturunkan kepada rasul-Nya Muhammad SAW, dengan lafal bahasa arab dinukil secara mutawattir dan tetulis pada lembaran-lembaran mushaf.
3.      Al-Ghazali mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah merupakan firman Allah.
Cabang ulumul Qur’an yang pertama kali dibukukan adalah tafsir Al-Qur’an. ada empat metode yang digunakan untuk menafsirkan Al-Qur’an yaitu:
1.      Metode Tahlily, tafsir kata per kata
2.      Metode Ijmaly, tafsir ayat Al-Qur’an secara garis besar atau global
3.      Metode Muqarin, tafsir yang membandingkan lafadz dalam Al-Qur’an dengan lafadz lainnya, hadis dan mufassirin.
4.      Metode Mudhu’i/Tematik yaitu penafsiran Al-Qur’an dengan cara memilih topik tertentu lalu dicarikan ayat-ayat yang berhubungan agar satu dengan yang lain saling menjelaskan.


B.     Posisi Hadist dalam Studi Islam
Hadis secara bahasa memiliki makna baru (jadid) atau berita (khabar). Term hadis dalam Al-Qur’an disebutkan dalam berbagai tempat dan kesemuanya merujuk pada makna khabar. Hadis dari segi bentuknya dibagi menjadi tiga yaitu hadis qauliy (perkataan), hadis fi’liy (perbuatan) hadis taqririy (persetujuan).
Selain term hadis, adapula term lain yang digunakan sebagai pembanding term hadis antara lain:
1.      Sunnah secara bahasa mempunyai pengertian perjalanan, kebiasaan baik atau buruk ketentuan ilahi dalam mengatur makhluk-nya.
2.      Khabar secara bahasa memiliki pengertian sesuatu yang dinukil dan dibicarakan atau berita yang disampaikan dari satu orang ke orang lainnya.
3.      Atsar secara bahasa yaitu jejak atau bekas
Dari sini bisa diambil kesimpulan bahwa kedudukan hadis terhadap al-qur’an secara umum adalah sebagai penjelas (bayan). Secara terperinci fungsi hadis terhadap al-qur’an adalah:
a.       Bayan taqrir, menetapkan dan memperkuat apa yang telah diterangkan dalam Al-Qur’an.
b.      Bayan tafsir, memberikan rincian dan tafsiran terhadap ayat-ayat dalam Al-Qur’an yang masih besifat global (mujmal), memberikan persyaratan atau batasan (taqyid) ayat-ayat Al-Quran yang bersifat mutlak, dan mengkhususkan (takhshish) ayat Al-Qur’an yang masih bersifat umum.
c.       Bayan tasyri’, mewujudkan suatu hukum atau ajaran-ajaran yang tidak didapati dalam Al-Qur’an atau dalam Al-Qur’an hanya terdapat pokok-pokoknya saja.
d.      Bayan naskh, menghapuskan ketentuan yang terdapat dalam Al-Qur’an.

C.    Pandangan Teologi tentang Al-Qur’an dan Hadis
           Teologi adalah ilmu yang membicarakan tentang Tuhan dan pertaliannya dengan manusia baik berdasarkan kebenaran wahyu atau berdasarkan penyelidikan akal murni. Karena pandangan hidup (teologi) seorang muslim berdasarkan Al-Qur’an dan Al-Sunnah maka yang menjadi dasar fundamental dalam studi islam adalah Al-Qur’an dan hadis itu sendiri. Al-Qur’an diyakini mengandung kebenaran yang mutlak yang bersifat transisdental, universal dan eternal (abadi). Sehingga secara akidah diyakini oleh pemeluknya akan sesuai dengan fitrah manusia artinya memenuhi kebutuhan manusia kapanpun dimanapun.


BAB XII
MACAM – MACAM PENDEKATAN DALAM STUDI ISLAM [1]

A.   Pendekatan Sosiologis
     Sosiologis adalah ilmu yang mempelajari hidup bersama dengan masyarakat dan menyelidiki ikatan – ikatan manusia yang mengusasai hidupnya.Sosiologi dapat digunakan sebagai salah satu pendekatan dalam memhami agama, karena banyak kajian dalam bidang agama yang baru dapat dipahami secara proporsional dan tepat apabila menggunakan ilmu sosiologi.Pendekatan sosiologi dapat di bedakan daari pendekatan studi agama lainya karena fokus perhatianya pada interaksi antara agama dan masyarakat. Studi sosiologi terhadap agama tidak hanya memberi perhatian dan depensi keyakinan kdan komunitas keagamaan terhadap kekuatan dan proses sosial. Kebanyakan sosiolgi mengakui bahwa ilmu tentang masyarakat memuat kecenderungan anti realigius.
     Dalam upaya melihat dimana letakperbedaan teori fungsionalisme, teori konflik dan interaksionalisme dalam melihat masalah sosial maka perlu terlebih dahulu kita melacak tradisi pikir yang berkembang dalam literatur sosiologi

B    Pendekatan Historis
     Sejarah berasal dari kara Arab syajarah (pohon) dan history dalam bahasa inggris yang berarti cerita atau kasih. Kajian dengan objek peristiwa yang terjadi di masa lalusecara disiplin ilmuharus menggunakan pendekatan sejarah, adapun karakteristik sejarah sebagai pendekatan, yaitu sebagai sebuah kerangka metodologi di dalam pengkajian atau sesuatu masalah.Agama dan sejarah tidak dapat di pisahkan.Sebab, sejarah manusia sesungguhnya adalah sejarah agama.
     Kajian agama, termasuk Islaam, yang dilakukan oleh sarjana barat dengan menggunakan ilmu-ilmu sosial dan humanities, sehingga muncul sejarah agama, psikologi agama, sosiologi agama, antropologi agama, dll. Sementara itu agama atau keaganaab sebagai sistem kepercayaan dalam kehidupan umat manusia dapat dikaji melalui berbagai sudut pandang
     Sejarah sebagai ilmu tentu saja mempunyai metode sendiri, yang harus digunakan oleh seorang sejarawan dalam menulis sesuatu peristiwa.Ilmu sejarah sendiri memiliki sifat yang diakronis atau memanjang dalam waktu.Seorang sejarawan dapat menggunakan model penulisan.
     Melalui pendekatan sejarah seorang diajak untuk memasuki keadaan yang sebenarnya berkenaan dengan peristiwa. Dengan menggunakan pendekatan sejarah adalima teori yang digunakan yaitu
1.  idealisme approach
2.  Reductionalist approach
3.  Diakronik
4.  Sinkronik
5.  Teori
     Pendekatan sejarah pada hakekatnya merupakan upaya melihat masa lalu melalui msa kini dengan
1.  Pemilihan Topik
2.  Pengumpulan Sumber
3.  Verifikasi
4.  Interpretasi
5. Penulisan

C.   Pendekatan Psikologis
       Pendekatan psikologis sebenarnya sama dengan pendekatan psikologis Islam, perbedaannya hanya pada beberapa dasarnya dan ruang lingkupnya yang lebih sempit. Pendekatan psikologis bertujuan untuk menjelaskan keadaan jiwa seseorang.





Bab XIII Macam-macam Pendekatan Studi Islam.

A.    Pendekatan Teologis Normatif
Pendekatan teologis normatif dalam pemahaman keagamaan adalah pendekatan studi Islam yang memandang masalah dari sudut legal formal dan atau normatifnya.Maksud legal formal adalah hubungan dengan halal-haram, boleh atau tidak, dan sejenisnya. Sementara normatifnya adalah seluruh ajaran yang terkandung dalam nash. Pada hakekatnya, ilmu Teologi membahas berbagai masalah ketuhanan dengan menggunakan logika dan filsafat. Adapun pembahasan yang diusung dalam aliran teologi dalam dunia Islam menyangkut hal-hal sebagai berikut:
1.      Konsep Iman
2.      Konsep Keesaan
3.      Konsep Kehendak Mutlak Tuhan
4.      Konsep Kehendak Bebas Manusia
5.      Konsep Keadilan Tuhan
6.      Konsep Kasb Manusia
7.      Konsep Melihat Tuhan di Akhirat
8.      Konsep Janji dan Ancaman Tuhan
9.      Konsep Urgensi Wahyu
10.  Konsep Status al-Qur’an
B.     Pendekatan Filologis
Filologis berasal dari kata dalam bahasa Yunani, yaitu kata “philos” yang berarti “cinta” dan “logos” diartikan “kata”. Pada kata “filologis” kedua kata itu secara harfiyah membentuk arti “cinta kata-kata” atau “senang belajar” atau “senang kebudayaan”. Sedangkan dalam bahasa Arab, filologi adalah ilmu tahqiq an-nushush (penelitian untuk mengetahui hakikat suatu tulisan).Kegiatan filologi yang menitik beratkan pada bacaan yang salah ini disebut dengan filologi tradisional. Beberapa langkah yag harus dilakukan dalam hal ini adalah:
1.      Inventarisasi Naskah
2.      Deskripsi Naskah
3.      Pengempolokan dan Perbandingan Teks
4.      Transliterasi
5.      Terjemahan
6.      Analisis
C.     Pendekatan Hukum Islam
Istilah “Hukum Islam” merupakan rangkaian kata yang popular dan dipergunakan dalam bahasa Indonesia. Dalam pembicaraan tentang hokum Islam yang terdapat dalam literature bahasa Arab adalah “fiqh” dan “syariat” atau “hokum syara”. Para ahli hokum Islam mendefinisikan fikih adalah ilmu pengetahuan tentang hokum-hukum syara’ yang bersifat operasional (amaliyah) yang dihasilkan dari dalil-dalil yang terpecaya.


Perkembangan hokum islam sendiri terbagi menjadi empat periode:
1.      Periode Rasulullah
2.      Periode Sahabat
3.      Periode Ijtihad
4.      Periode Taqlid
D.    Pendekatan Antropologis
Pendekatan antropologi tidak dapat dipisahkan dari disiplin ilmu Antropologi karena pendekatan banyak mengadopsi dari disiplin ilmu tersebut. Antropologi sendiri secara etimologis berasal dari bahasa Yunani , yaitu kata anthropos yang berarti “manusia” atau “orang”, dan logos yang berarti “wacana” (dalam pengertian “bernalar”, “berakal”) antropologi mempelajari manusia sebagai makhluk biologis sekaligus makhluk sosial.  Langkah dan tahapan pendekatan antrologi dalam studi Islam memiliki empat ciri fundamental
1.      Deksriptif
2.      Local praktis
3.      Kertekaitan antar domain kehidupan secara lebih utuh
4.      Komparatif

E.     Pendekatan Teologis Normatif
Pendekatan teologis normatif dalam pemahaman keagamaan adalah pendekatan studi Islam yang memandang masalah dari sudut legal formal dan atau normatifnya.Maksud legal formal adalah hubungan dengan halal-haram, boleh atau tidak, dan sejenisnya. Sementara normatifnya adalah seluruh ajaran yang terkandung dalam nash. Pada hakekatnya, ilmu Teologi membahas berbagai masalah ketuhanan dengan menggunakan logika dan filsafat. Adapun pembahasan yang diusung dalam aliran teologi dalam dunia Islam menyangkut hal-hal sebagai berikut:
11.  Konsep Iman
12.  Konsep Keesaan
13.  Konsep Kehendak Mutlak Tuhan
14.  Konsep Kehendak Bebas Manusia
15.  Konsep Keadilan Tuhan
16.  Konsep Kasb Manusia
17.  Konsep Melihat Tuhan di Akhirat
18.  Konsep Janji dan Ancaman Tuhan
19.  Konsep Urgensi Wahyu
20.  Konsep Status al-Qur’an
F.      Pendekatan Filologis
Filologis berasal dari kata dalam bahasa Yunani, yaitu kata “philos” yang berarti “cinta” dan “logos” diartikan “kata”. Pada kata “filologis” kedua kata itu secara harfiyah membentuk arti “cinta kata-kata” atau “senang belajar” atau “senang kebudayaan”. Sedangkan dalam bahasa Arab, filologi adalah ilmu tahqiq an-nushush (penelitian untuk mengetahui hakikat suatu tulisan).Kegiatan filologi yang menitik beratkan pada bacaan yang salah ini disebut dengan filologi tradisional. Beberapa langkah yag harus dilakukan dalam hal ini adalah:
7.      Inventarisasi Naskah
8.      Deskripsi Naskah
9.      Pengempolokan dan Perbandingan Teks
10.  Transliterasi
11.  Terjemahan
12.  Analisis
G.    Pendekatan Hukum Islam
Istilah “Hukum Islam” merupakan rangkaian kata yang popular dan dipergunakan dalam bahasa Indonesia. Dalam pembicaraan tentang hokum Islam yang terdapat dalam literature bahasa Arab adalah “fiqh” dan “syariat” atau “hokum syara”. Para ahli hokum Islam mendefinisikan fikih adalah ilmu pengetahuan tentang hokum-hukum syara’ yang bersifat operasional (amaliyah) yang dihasilkan dari dalil-dalil yang terpecaya.

Perkembangan hokum islam sendiri terbagi menjadi empat periode:
5.      Periode Rasulullah
6.      Periode Sahabat
7.      Periode Ijtihad
8.      Periode Taqlid


H.    Pendekatan Antropologis
Pendekatan antropologi tidak dapat dipisahkan dari disiplin ilmu Antropologi karena pendekatan banyak mengadopsi dari disiplin ilmu tersebut. Antropologi sendiri secara etimologis berasal dari bahasa Yunani , yaitu kata anthropos yang berarti “manusia” atau “orang”, dan logos yang berarti “wacana” (dalam pengertian “bernalar”, “berakal”) antropologi mempelajari manusia sebagai makhluk biologis sekaligus makhluk sosial.  Langkah dan tahapan pendekatan antrologi dalam studi Islam memiliki empat ciri fundamental
5.      Deksriptif
6.      Local praktis
7.      Kertekaitan antar domain kehidupan secara lebih utuh
8.      Komparatif




 BAB I
PENGERTIAN, URGENSI, DAN SIGNIFIKANSI METODOLOGI STUDI ISLAM


Pengertian Urgensi dan Signifikansi Metedologi Study Islam
Metodologi adalah metode atau cara-cara yang berlaku dalam kajian atau penelitian.Metodologi berguna untuk membantu sesorang dalam mengembangkan keilmuan yang di milikinya dan mengadakan pemahaman keislaman secara utuh dan komprehensif. Metode yang di gunakan untuk memahami islam ada dua macam, yang pertama metode komparansi yaitu suatu cara memahami agama dengan membandingkan seluruh aspek yang ada dalam agama islam tersebut dengan agama lainnya.
Ruang Lingkup Studi Islam
            Studi islam merupakan suatu disiplin ilmu yang ruang lingkup studi keislaman dalam tradisi sarjana barat meliputi pembahasan tentang ajaran, pemikiran, teks, sejarah, dan institusi keislaman.
            Kedudukan MSI jika ditelusuri topik pembahasannya tidak lain adalah “akumulasi” dari kajian-kajian substansi keislaman yang materi intinya bersifat dasar (pengantar). Kedudukan studi islam sangatlah penting peranannya karena studi islam merupakan disiplin ilmu yang menerangkan dasar seseorang dalam beragama. Mempelajari metodoligi studi islam juga di harapkan mampu memberikan pedoman dan pegangan hidup bagiumat islam agar tetap menjadi muslim yang sejati.
Islam Sebagai Objek Kajian
            Pemikiran Islam terpotret bagaimana pemikiran peminat studi Islam memberi andil kreatif dan signifikan terhadap bangunan pemahaman ajaran Islam dalam berbagai dimensinya.Pemikiran ini menghasilkan berbagai jenis pengetahuan Islam.Disinilah kemudian agama terinstitusionalkan dan menjadi menarik untuk dikaji karena sebelumnya hanya bisa dilakukan dengan mengadakan penyelidikan yang mendalam mengenai al-Qur’an dan hadist menjadi bisa dipelajari dari banyak sudut pandang.
           
Islam Normatif dan Historis
            Islam normative merupakan agama yang di dalamnya berisi ajaran Tuhan yang berkaitan dengan akidah dan muamalah. Sedangkan islam historis adalah islam yang tidak bisa dilepaskan dari sejarah dan kehidupan manusia yang berada dalam ruang dan waktu. Islam historis merupakan unsur kebudayaan yang di hasilkan oleh setiap pemikiran manusia dalam interpretasi atau pemahamannya tehadap teks, maka islam pada tahap ini terpengaruh bahkan menjadi sebuah kebudayaan.
           

BAB II
PENGANTAR STUDI ISLAM


Studi islam sebagai disiplin ilmu
            Dilihat dari segi normatif islam merupakan agama yang tidak dapat diberlakukan kepadanya paradigma ilmu-ilmu pengetahuan yaitu paradigma analitis, kritis, metodologis, historis, dan empiris. Studi islam adalah pengetahuan yang di rumuskan dari ajaran islam yang dipraktekkan dalam sejarah dan kehidupan manusia. Sedangkan pengetahuan agama adalah pengetahuan yang sepenuhnya diambil dari ajaran-ajaran Allah dan RosulNya secara murni.Sebagai agama islam lebih bersifat memihak, romantic, apologis, dan subjektif. Sedangkan jika dilihat dari segi historis, yakni islam dalam arti yang di praktikan oleh manusia serta tumbuh dan berkembang dalam kehidupan manusia maka islam dapat di katakana sebagai sebagai di siplin ilmu, yakni ilmu ke-islaman, Islamic studies, atau dirasah islamiyah.
Pertumbuhan dan Objek Studi Islam
            Studi islam sekarang berkembang hamper di seluruh Negara di dunia, baik islam maupun yang bukan islam.
Sejarah Metode dan Pendekatan Studi Islam
            Metode terbaik untuk memperoleh pengetahuan adalah metode ilmiah, untuk memahami metode ini terlebih dahulu harus mengetahui pengertian ilmu.Ilmu adalah pengetahuan yang sistematik.Ilmu mengawali penjajahannya dari pengalaman manusia dan berhenti pada batas pengalaman itu. Metode Studi Islam dibagi menjadi 2, yang pertama metode komparasi, yaitu suatu cara memahami agama dengan membandingkan seluruh aspek yang ada dalam agama islam tersebut dengan agama lainnya. Kedua, metode sistesis, yaitu suatu cara memahami islam yang memadukan antara metode ilmiah dengan segala cirinya yang rasional, objektif, kritis, dan seterusnya dengan metode teologis normatif. Metode ilmiah di gunakan untuk memahami islam yang Nampak dalam kenyataan historis, empiris, dan sosiologis. Sedangkan metode teologis normatif digunakan untuk memahami islam yang terkandung dalam kitab suci.


BAB III
PENELITIAN AGAMA


Pengertian Penelitian Agama
            Secara umum penelitian diartikan sebagai suatu proses pengumpulan dan analisis data yang dilakukan secara sistematis dan logis untuk mencapai tujuan tertentu. Sedangkan penelitian agama adalah mencari, menelaah, meneliti, serta menemukan jawaban atas permasalahan dan pernyataan seputar keyakinan manusia kepada sebuah kekuatan diatas kekuatan manusia yang mana kekuatan tersebut diekspresikan dalam bentuk penyembahan dan pengabdian serta sesuatu
Agama Sebagai Obyek Penelitian
Agama sebagai obyek kajian atau penelitian karena agama merupakan bagian dari bagian kehidupan sosial kultural.Jadi penelitian agama bukanlah meneliti hakikat agama dalam arti wahyu, melainkan meneliti manusia yang menghayati, meyakini dan memperoleh pengaruh dari agama. Dengan demikian kedudukan penelitian agama adalah sejajar dengan penelitian-penelitian lain, yang membedakannya hanyalah objek kajian yang ditelitinya.
Penelitian Keagamaan
            Penelitian keagamaan adalah penelitian tentang praktik-praktik ajaran agama yang dilakukan oleh manusia secara individual dan kolektif.
Kontruksi Penelitian Agama
            Dalam hal ini ada 3 macam istilah dalam mendekati agama, yaitu
1.      Unsur-unsur atau aspek-aspek yang sama
2.      Orde, diberi tafsiran yang berbeda-beda:
a.       Orde Kosmos
Disini yang paling penting keselarasan dengan kosmos sekitarnya.Kesejahteraan kosmos harus dijaga.
b.      Orde Hukum Etis
Yang dipentingkan disini adalah akhlak kehendak Tuhan untuk tingkah laku manusia terhadap Tuhan dan sesamanya.Jika peraturan ini dilanggar, maka manusia berbuat dosa atau kejahatan.
3.      Tiap-tiap agama dan keyakinan tentang keterokan-keterokan atau kegagalan, ada kekurangan dan tidak kesempurnaan.


BAB IV
AGAMA SEBAGAI IDEOLOGI DAN DOKTRIN


A.  Ideologi
1.    Pengertian Ideologi
Ideologi berasal dari bahasa Yunani yaitu edios yang artinya gagasan dan logos yang artinya ilmu.Pengertian ideologi secara umum adalah sekumpulan ide, gagasan, keyakinan dan kepercayaan yang menyeluruh dan sistematis.
2.    Prinsip-prinsip ideologi
Prinsip-prinsip Ideologi dapat diuraikan sebagai berikut:
a.    Nilai yang menentukan seluruh hidup manusia
b.    Gagasan yang diatur dengan baik tentang manusia dan kehidupannya.
c.    Kesepakatan bersama yang membuat nilai dasar masyarakat dalam suatu Negara
d.    Pembangkit kesadaran masyarakat akan kemerdekaan
e.    Gabungan antara pandangan hidup yang merupakan nilai-nilai-dari suatu bangsa serta dasar Negara yang memiliki nilai-nilai falsafah yang menjadi pedoman hidup suatu bangsa.
B.  Pengertian Doktrin
Kata doktrin berasal dari bahasa inggris doctrine yang artinya ajaran. Istilah doktrin biasanya berhubungan dengan dua hal: pertama, sebagai penegas suatu kebenaran, dan kedua berkaitan dengan ajaran. Keduanya tidak dapat dipisahkan sebab menegaskan kebenaran adalah melalui ajaran, sedangkan yang diajarkan berkaitan dengan kebenaran.
C.  Agama sebagai Doktrin
Berdasarkan yang dikemukakan dalam pengertian di atas, yang dimaksud doktrin agama adalah suatu kepercayaan kepada Tuhan, suatu iktan, kesadaran, dan penyembahan secara spiritual kepada-Nya.Banyak orang berpandangan bahwa doktrin agama bersumber dari wahyu, dan agama diperuntukkan bagi manusia.Karena agama bersumberkan pada wahyu, berarti kebenaran yang muncul bernilai mutlak. Pada sisi lain, manusia adalah makhluk pencari kebenaran.

D.  Islam sebagai Doktrin
Yang dimaksud Islam sebagai doktrin adalah memandang bahwa Islam sebagai wahyu Allah sebagaimana ajarannya terdapat dalam al-Qur’an dan al-Sunnah yang diyakini kebenarannya dan bersigat mutlak.Doktrin Islam yang paling pokok adalah trilogy Iman, Islam dan Ihsan.
1. Iman
Iman adalah keyakinan terhadap adanya Allah dengan Ke-Esaan-Nya, Malaikat, pertemuan denganNya, para utusan-utusanNya dan percaya pada hari kebangkitan.
2. Islam
Islam adalah ketataan dalam menyembah kepada Allah, tidak musyrik, melaksanakan perintah dan menjauhi lanrangan-Nya.
3. Ihsan
Ihsan adalah menurut penjelasan Nabi SAW yaitu “Engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, jika tidak maka sesungguhnya dia melihatmu.”
E.  Bentuk-bentuk Penyikapan Doktrin
Menurut Raimundo Panikkar ada tiga menyikapan kebenaran agama, yaitu:
1.    Eksklusivisme
    Sikap eksklusivisme menganggap bahwa ajaran yang paling benar ialah ajaran pada agama yang dipelukknya, sedangkan agama lain wajib dimusnakan.
2.    Inklusivisme
Sikap inklusivisme menganggap bahwa di luar agama yang dipeluknya juga terdapat kebenaran meskipun tidak sesempurna agama yang dipeluknya.
3.    Pluralisme
Sikap pluralism memiliki sikap menyamakan dan menyejajarkan semua kebenaran agama, sekalipun pada dasarnya memiliki perbedaan.



BAB V
AGAMA SEBAGAI PRODUK BUDAYA


A.  Pengertian Kebudayaan
Kebudayaan adalah hasil daya cipta manusia dengan menggunakan dan mengerahkan segenap batin yang dimilikinya. Ilmu mengenai kebudayaan secara garis besar dibagi menjadi dua ruang lingkup, yaitu:
1.    Berbagai aspek kehidupan yang mengungkapkan masalah kemanusiaan dan budaya dapat didekati dengan pengetahuan budaya
2.    Hakikat manusia yang satu, tetapi beragam perwujudannya dalam budaya setian zaman dan tempat.
B.  Agama sebagai Sasaran Penelitian Budaya
Agama sebagai sasaran penelitian budaya berarti menggunkan pendekatan penelitian yang lazim digunakan dalam penelitian agama.Yang termasuk penelitian budaya misalnya penelitian tentang naskah-naskah, alat-alat ritus keagamaan, benda-benda purbakala agama, sejarah agama, nilai-nilai dari mitos yang dianut oleh pemeluk agama dan sebagainya.Dalam hal ini bila agama telah menjadi bagian dari kebudayaan maka agama juga menjadi bagian dari nilai-nilai budaya dari kebudayaan tersebut. Dengan demikian, berbagai tindakan yang dilakukan masyarakat dalam pemenuhan kebutuhan hidupnya juga akan berlandaskan pada etos agama yang dianutnya.
C.  Pendekatan Kebudayaan dalam Kajian Agama
Pendekatan kebudayaan digunakan untuk memahami corak keagamaan dan menambah keyakinan yang dimiliki oleh suatu masyarakat sesuai dengan ajaran yang benar. Ada empat cirri fundamental cara kerja pendekatan antropologi terhadap agama. Pertama, bercorak descriptive, maksudnya yaitu dilakukan dengan pengamatan yang serius dan terstruktur.Kedua, dilihat secara local practices, yaitu praktik konkrit dan nyata di lapangan.Ketiga, selalu mencari hubungan dan keterkaitan antara berbagai ruang kehidupan secara lebih utuh.Keempat, bersifat comparative, yaitu memerlukan perbandingan dari berbagai tradisi, social, budaya, dan agama.


BAB VI
AGAMA SEBAGAI PRODUK INTERAKSI SOSIAL


A.  Agama sebagai Produk Interaksi Sosial
Interaksi social yaitu hubungan timbal balik antara individu dengan individu, individu dengan masyarakat, serta individu dengan lingkungannya yang dapat mengakibatkan terjadinya perubahan sosial.Agama sebagai gejala sosial berhubungan pada konsep sosiologi agama yang dalam hal ini mempelajari hubungan timbal balik antara agama dan masyarakat.Penelitian dengan menempatkan agama sebagai hasil interaksi sosial sebagai obyeknya bisa dilakukan dengan pendekatan yang umumnya dilakukan di studi sosial.
B.  Penelitian Eksperimental
Penelitian eksperimental merupakan suatu penelitian dengan menggunakan variabel-variabel tertentu dalam mempelajari hubungan sebab-akibat terhadap suatu masalah.
Penelitian eksperimental memiliki beberapa cirri, yaitu:
1.    Adanya perlakuan untuk melihat pengaruh variabel bebas terhadap veriabel pengikat.
2.    Adanya teknik-teknik tertentu yang digunakan untuk mengendalikan berbagai variabel yang diduga akan mempengaruhi variabel terikat diluar variabel yang sedng dikaji.
3.    Adanya unit-unit eksperimen atau beberapa kelompok manusia yang menjadi objek kajian.
C.  Pengamatan dan pengamatan terlibat
Pengamatan merupakan bagian penting dari pengumpulan data, yaitu untuk meningkatkan kepekaan peneliti dari operasionlaisasi teknik pengumpulan data yang lain, terutama teknik wawancara. Sedangkan pengamatan terlibat dilakukan untuk melihat bagaimana cara informan memilih sebuah tindakan tertentu dalam setiap aktifitasnya. Pada dasarnya pengamatan terlibat selalu melibatkan dua hal pokok yaitu tentang apa yang dilakukan oleh orang dan apa yang dikatakan oleh orang.
D.  Penelitian Survey dan Analisis Statistik
1.    Penelitian Survey
Penelitian survey adalah salah satu metode penelitan yang umumnya mengkaji populasi yang besar dengan menggunakan sampel populasi yang bertujuan untuk membuat deskripsi, generalisasi, atau prediksi tentang pendapat, perilaku, dan karakteristik yang ada dalam populasi tersebut. Dalam sebuah penelitian, analisis survey bertujuan untuk penjagaan, deskriptif, penjelasan, evaluasi, prediksi, penelitian operasional, dan pengembangan indikator-indikator sosial.


2.    Analisis Statistik
Bentuk data analisis statistik adalah kuantitatif dan kualitatif.Data kualitatif adalah data yang disajikan dalam bentuk kata.Sedangkan data kuantitatif adalah data yang dikumpulkan tentang variabel objek berupa angka.
E.   Analisis Data
Analisis data adalah proses menyusun data agar data tersebut dapat ditafsirkan. Analisis data ini dapat dilakukan dalam tiga tahap berikut ini:
1.    Analisis data selama pengumpulan data
Kegiatan ini dapat dimulai setelah peneliti memahami fenomena sosil yang sedang diteliti dan setelah mengumpulkan data yang dapat dianalisis.
2.    Reduksi Data
Dara tersebut direduksi, dirangkum, dipilih hal-hal pokok, dan difokuskan pada hal-hal yang penting dan berkaitan dengan masalah.
3.    Display Data
    Kegiatan ini dapat dilakukan dengan cara membuat model, matriks atau grafiks sehingga keseluruhan data dan bagian-bagian detailnya dapat dipetakan dengan jelas.
4.    Penarikan kesimpulan dan verifikasi
    Data yang sudah dipolakan akan disusun secara sistematis, kemudian disimpulkan sehingga makna data tersebut dapat ditemukan. Namun kesimpulan itu hanya sementara.Agar kesimpulannya sempurna maka dilakukan verifikasi data tersebut dengan melakukan pengujian terhadap kesimpulan data.


BAB VII
ISLAM SEBAGAI SASARAN STUDI DOKTRINAL


A.  Islam sebagai Doktrin
   Kata doktrin berasal dari bahasa Inggris doctrine yang berarti ajaran.Dari kata doctrine itu kemudian dibentuk kata doktrinal, yang berarti yang berkenaan dengan ajaran atau bersifat ajaran.Selain kata doctrine sebagaimana disebut di atas terdapat kata doctrinaire yang berarti bersifat teoritis yang tidak praktis.
Studi doktrinal ini berarti studi yang berkenaan dengan ajaran atau studi tentang sesuatu yang bersifat teoritis dalam arti tidak praktis.Karena ajaran ini belum dijadikan dasar dalam berbuat atau mengajarkan sesuatu.Berkenaan dengan Islam sebagai sasaran objek studi doktrinal berarti studi doktrinal yang dimaksud adalah studi Islam dari teori-teori yang dikemukaan oleh Islam.

B.  Ruang Lingkup Doktrin Islam
Islam merupakan agama yang sangat multidimensi yang dapat dikaji dari berbagai aspek baik dari tinjauan budaya-sosial maupun dari aspek doktrin agama Islam. Apabila ditelaah dari aspek doktrin maka akan muncul ajaran-ajaran dalam agama Islam yang bisa saja ajaran tersebut tidak dapat diganggu gugat keberadaannya. Dimana sumber ajaran islam adalah al-Qur’an dan al-Sunnah diantaranya membahas trilogy doktrin Islam yang biasa dikenal dengan Iman, Islam, dan Ihsan. Kemudian trilogy berkembang menjadi tiga kerangka dasar Islam yang digunakan dalam tiga pemikiran Islam yaitu Aqidah, Syariah, Akhlak.

C.  Model Penelitian Islam sebagai Doktrin
1.    Model Penelitian Tafsir
Tafsir adalah suatu ilmu untuk memahami Kitab Allah SWT.Yang diberikan kepada Nabi Muhammad SAW.dan merupakan penjelas makna-makna serta kesimpulan hikmah dan hukum.
a.    Model Quraish shihab
Model penelitian tafsir yang dikembangkan oleh shihab yang merupakan model penelitian yang berupaya menggali sejauh mungkin produk tafsir yang dilakukan ulama-ulama tafsir terdahulu.
b.    Model al-Shirbbasyi
Sumber yang digunakan oleh Asy Shirbbasyi adalah bahan-bahan bacaan dan kepustakaan yang ditulis oleh para penafsir.
c.    Model al-Ghazali
Model penelitian tafsir yang dikembangkan oleh Al-Ghazali bersifat eksploratif, deskriptif, analisis dengan berdasarkan pada rujukan kitab-kitab yang ditulis ulama terdahulu.

2.    Model Penelitian Hadits
Dalam melakukan penelitian terhadap hadits, ada beberapa model penelitian yang bisa dilakukan yaitu:
a.    Takhrij hadits
Takhrij adalah menunjukkan atau mengemukaan letak asal hadits pada sumbernya yang asli.
b.    I'tibar
Al-I'tibar berarti menyertakan sanad-sanad untuk hadits tertentu agar terlihat jelasseluruh jalur sanad yang diteliti.
c.    Kritik Sanad
Dalam hal iniyang perlu dikritisi adalah kepribadian periwayat hadits untuk diketahui apakah riwayat hadits yang dikemukakannya dapat diterima sebagai hujjah ataukah harus ditolak.
d.    Kritik Matan
Metode kritik matan, menurut al-A'zhami, banyak terfokus pada metode mu'aradhah yakni pencocokan konsep yang menjadi muatan pokok setiap matan hadits, agar tetap terpelihara keselarasan antara konsep dengan hadits lain dengan dalil syariat lain.


BAB VIII
AGAMA SEBAGAI SASARAN STUDI SOSIAL

A.  Islam Sebagai Sasaran Studi Sosial
            Yang dimaksud islam sebagai sasaran studi sosial di sini adalah studi tentang islam sebagai gejala sosial. Hal ini menyangkut keadaan masyarakat penganut agama lengkap dengan struktur, lapisan serta berbagai gejala sosial lainnya yang saling berkaitan. Menurut M. Atho Mudzhar dalam bukunya, ada lima bentuk gejala agama yang perlu diperhatikan dalam mempelajari atau menstudi agama. Pertama, scripture atau naskah-naskah atau sumber ajaran dan simbol-simbol agama.Kedua, penganut atau pemimpin atau pemuka agama, yaitu yang berkenaan dengan perilaku dan penghayatan para penganutnya.Ketiga, lembaga-lembaga dan ibadat-ibadat, seperti shalat, haji, puasa, dll.Keempat, alat-alat seperti masjid, gereja, lonceng, dll.Kelima, organisasi-organisasi keagamaan tempat penganut berkumpul.Agama sebagai gejala sosial bertumpu pada konsep sosiologi agama.
B.  Pandangan Islam terhadap Ilmu Sosial
Islam lebih banyak memperhatikan aspek kehidupan sosial daripada aspek kehidupan ritual.Dibalik kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, dunia modern menyimpan suatu potensi yang dapat menghancurkan martabat manusia.Dalam keadaan demikian, sudah saatnya untuk memiliki ilmu pengetahuan sosial yang mampu membebaskan manusia dari berbagai problema.
C.  Ilmu Sosial Bernuansa Islam
Dewasa ini kita butuh ilmu sosial yang tidak hanya berhenti pada menjelaskan fenomena sosial, tetapi dapat memecahkannya secara memuaskan. Sampai saat ini banyak sekali ilmu sosial yang lebih maju atau lebih baik dari sebelumnya, dengan demikian umat islam akan dapat meluruskan gerak langkah perkembangan ilmu pengetahuan yang terjadi saat ini dan juga dapat meredam berbagai kerusuhan sosial dan tindakan kriminal lainnya yang saat ini banyak mewarnai kehidupan. Pemecahan terhadap hal tersebut salah satu alternatifnya adalah dengan memberikan nuansa keagamaan pada ilmu sosial yang oleh Kuntowijoyo di sebut ilmu sosial yang profetik.
D.  Peran Ilmu Sosial Profetik pada Era Globalisasi
Jika saat ini kita menghadapi kesenjangan sosial yang diakibatkan oleh perbedaan tingkat ekonomi, maka hal tersebut menunjukkan bahwa ilmu sosial yang ada sekarang perlu di tinjau kembali antara lain dengan menerapkan ilmu sosial profetik. Islam berupaya mengikis kesenjangan sosial tersebut dengan melalui berbagai upaya seperti institusi zakat, infak, sadaqah, dan lain-lain.Dengan sifat dan karakteristik ajaran islam maka melalui ilmu sosial yang berwawasan profektik islam siap untuk memasuki era globalisasi. Era globalisasi yang ditandai dengan adanya perubahan bidang ekonomi, teknologi sosial, informasi, dan sebagainya akan dapat diambil manfaatnya dengan sebaik-baiknya, dan dapat dibuang hal-hal yang membahayakan.


BAB IX
ISLAM SEBGAI SASARAN STUDI BUDAYA


A. BUDAYA ISLAMI
Dalam metodologi studi Islam kebudayaan adalah suatu cara berpikir, cara pandang(out look) atau metalitas manusia.

B. Contoh Kajian Budaya dalam Perkembangan Islam di Jawa
Interaksi Islam dengan budaya di jawa melahirkan tiga bentuk keIslaman yang punya dasar pikiran yang berbeda-beda dan kadang memancing konflik antara satu dengan yang lainnya yaitu, Islam Pesantren, Islam kejawen dan Islam Modernis.


C. Islam sebagai Sasaran Studi Budaya
            1. Karakteristik Studi Budaya
             Dalam konteks dinamisasi kebudayan sebuah studi budaya di klasifikasikan menjadi dua, yaitu : Pertama, Budaya implisit merupakan hubungan antar kelompok dan satu kelompok individu yang mengatur dan mengupayakan agar berperilaku sesuai dengan budaya kelompoknya. Kedua, Budaya eksplisit merupakan adopsi budaya dari sekelompok individu dengan budaya yang berbeda.

2. Pendekatan Budaya dalam Memahami Islam
 Penelitian budaya adalah penelitian tentang naskah-naskah (fisologi), alat-alat ritus keagamaan, benda-benda purbakala agama (arkeologi), sejarah agama, nilai-nilai dari mitos-mitos yang di anut para pemeluk agama  dan sebagainya.


BAB X
KARAKTERISTIK AJARAN ISLAM


A. Pengertian Islam Menurut Ajaran
            Secara etimologi, kata Islam berasal dari Bahasa Arab, yakni Aslama, yuslimu islaman  yang berarti keselamatan. Kata ini juga bisa dibentuk dari tiga susunan huruf yaitu sin, lam dan mim.
            Kata Islam menurut istilah adalah mengacu kepada agama yang bersumber dari wahyu yang datang dari Allah SWT., Bukan dari manusia dan bukan pula berasal dari Nabi Muhammad SAW.
            Selanjutnya dilihat dari segi ajarannya, Islam adalah agama yang sepanjang sejarah manusia.Agama dari seluruh nabi dan rasul yang pernah diutus oleh Allah SWT pada bangsa-bangsa dan kelompok-kelompok manusia. Islam itulah agama bagi Adam as, Nabi Ibrahim, Nabi ya’kub, Nabi Musa, Nabi Daud, Nabi sulaiman dan Nabi Isa as. Meskipun nabi tersebut telah menyatakan diri sebagai muslim atau orang yang berserah diri, akan tetapi agama yang mereka anut itu bukan bernama agama Islam. Misi agama yang mereka anut adalah Islam, tetapi Agama yang mereka bawa namanya dikaitkan dengan nama daerah atau nama penduduk yang menganut agama tersebut.

B. Karakteristik Ajaran Islam
            Karakteristik Ajaran Islam adalah suatu karakter yang harus dimiliki oleh setiap umat muslim dengan berpedoman pada al-Qur’an dan Hadits.

Karakteristik Islam dalam konsepsi ajarannya :
1. Dalam bidang akidah
            Karakteristik Islam yang dapat diketahui melalui bidang akidah ini adalah bahwa akidah Islam bersifat murni baik dalam isinya maupun prosesnya.
            Akidah dalam Islam meliputi keyakinan dalam hati tentang Allah sebagai Tuhan yang wajib disembah; ucapan dengan lisan dalam bentuk dua kalimat syahadat yaitu menyatakan tiada tuhan selain Allah, dah bahwa Nabi Muhammad sebagai utusan-Nya; perbuatan dengan amal sholeh. Dengan demikian akidah Islam bukan sekedar keyakinan dalam hati, melainkan pada tahap selanjutnya  harus menjadi acuan dan dalam bertingkahlaku, serta berbuat yang pada akhirnya menimbulkan amal shaleh.
2. Dalam bidang agama
 Menurut Nurcholis Madjid dalam bidang agama, bahwa Islam mengakui adanya pluralisme, pluralisme adalah aturan Tuhan (Sunnah Allah) yang tidak akan berubah, sehingga tidak mungkin untuk dilawan atau diingkari.

3. Dalam bidang ibadah
            Secara harfiah Ibadah berarti bakti manusia kepada Allah SWT, karena didorong dan dibangkitkan oleh aqidah tauhid.Ibadah di bagi menjadi dua yaitu; ibadah umum dan Khusus. Ibadah umum ialah segala amalan yang diizinkan Allah sedangkan yang khusus adalah apa yang telah ditetapkan Allah akan perincian-perinciannya, tingkat dan cara-caranya yang tertentu. Dalam ibadah tidak boleh ada “kreatifitas” sebab yang meng create atau membentuk suatu ibadah dalam Islam dinilai sebagai bid’ah.

4. Dalam bidang pendidikan
            Islam memandang bahwa pendidikan adalah hak bagi setiap orang laki-laki atau perempuan dan berlangsung sepanjang hayat.Dalam bidang pendidikan Islam memiliki rumusan yang jelas dalam bidang tujuan, kurikulum, guru, metode, sarana dan lain sebagainya.

5. Dalam bidang social
            Karakteristik ajara Islam dalam bidang sosia ini, Islam menjunjung tinggi tolong menolong, saling menasehati, tentang hak dan kesabaran, kesetiakawanan, egaliter (kesamaan derajat), tenggang rasa dan kebersamaan.Kualitas dan ketinggian derajat seseorang ditentukan oleh ketakwaaannya yang ditunjukkan oleh prestasi kerjannya yang bermanfaat bagi manusia.

6. Dalam  bidang ekonomi
            Pandangan Islam mengenai kehidupan ekonomi itu dicerminkan dalam ajaran fiqih tentang bagaimana menjelaskan sesuatu usaha taupun ajaran Islam mengenai berzakat juga dalam konteks berekonomi.
7. Dalam bidang kesehatan
            Ajaran Islam memegang prinsip pencegahan lebih baik daripada penyembuhan.Yang dalam bahasa Arab, prinsip ini berbunyi, al-wiqayah khair min al-‘laj.Untuk menuju upaya pencegahan tersebut, Islam menekankan segi kebersihan lahir dan batin.

8. Dalam bidan politik
            Dalam al-Qur’an surat An-Nisa ayat 156 terdapat perintah mentaati ulil amri yang terjemahannya termasuk penguasa dibidang politik, pemerintahan dan Negara. Dalam hal ini Islam tidak menerangkan atau menyuruh ketaatan yang buta tetapi menghendaki suatu ketaatan yang kritis dan selektif.

9. Dalam bidang pekerjaan
            Islam memandang bahwa kerja sebagai suatu Ibadah kepada Allah SWT.  Atas dasar ini maka kerja yang di kehendaki Islam adalah kerja yang bermutu, terarah kepada pengabdian kepada Allah SWT, dan kerja yang bermanfaat bagi orang lain. Untuk menghasilkan produk pekerjaan yang bermutu haruslah dilakukan secara professional, yaitu kerja yang didukung pengetahuan, keahlian, pengalaman, kesungguhan, dan seterusnya.

C. Karakteristik Islam dalam Bidang Ilmu dan Kebudayaan
            Karakteristik Islam dalam bidang ilmu dan kebudayaan bersikap terbuka, akomodatif, tetapi juga selektif. Yakni dari satu segi Islam terbuka dan akomodatif untuk menerima berbagai masukan dari luar, tetapi bersamaan dengan Islam itu juga selektif, yakni tidak begitu saja menerima seluruh jenis ilmu dan kebudayaan melainkan ilmu dan kebudayaan yang sejalan dengan Islam. Demikian pentingnya ilmu hingga Islam memandang bahwa orang menuntut ilmu sama nilainya dengan jihad dijalan Allah.


BAB XI
POSISI SENTRAL AL-QURAN DAN HADIST DALAM STUDI ISLAM

A.    Posisi Al-Qur’an dalam Studi Islam
Secara etimologi (bahasa) Al-Qur’an merupakan masdar dari kata Qara’a mempunyai arti mengumpulkan dan menghimpun, dan qira’ah berarti menghimpun huruf-huruf dan kata-kata satu dengan yang lain dalam suatu ucapan yang tersusun rapi.
Sedangkan secara terminologi Al-Qur’an adalah kalamullah yang diwahyukan kepada nabi Muhammad SAW, sebagai pedoman bagi umat islam yang disampaikan melalui perantara jibril melalui jalan mutawattir yang membacanya dinilai sebagai ibadah yang diawali dengan surat al-fatihah dan ditutup dengan surat an-Naas.
Perbedaan pendapat tentang Al-Qur’an secara etimologi dan terminology:
1.      Safi’ Hasan Abu Thalib menyebutkan bahwa Al-Qur’an adalah wahyu yang diturunkan dengan lafal bahasa arab dan maknanya dari Allah SWT, melalui wahyu yang disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW, ia merupakan dasar dan sumber dasar utama bagi syariat.
2.      Zakaria Al-Birri mengemukakan bahwa Al-Qur’an adalah al-kitab yang disebut Al-Qur’an dalam kalam Allah SWT, yang diturunkan kepada rasul-Nya Muhammad SAW, dengan lafal bahasa arab dinukil secara mutawattir dan tetulis pada lembaran-lembaran mushaf.
3.      Al-Ghazali mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah merupakan firman Allah.
Cabang ulumul Qur’an yang pertama kali dibukukan adalah tafsir Al-Qur’an. ada empat metode yang digunakan untuk menafsirkan Al-Qur’an yaitu:
1.      Metode Tahlily, tafsir kata per kata
2.      Metode Ijmaly, tafsir ayat Al-Qur’an secara garis besar atau global
3.      Metode Muqarin, tafsir yang membandingkan lafadz dalam Al-Qur’an dengan lafadz lainnya, hadis dan mufassirin.
4.      Metode Mudhu’i/Tematik yaitu penafsiran Al-Qur’an dengan cara memilih topik tertentu lalu dicarikan ayat-ayat yang berhubungan agar satu dengan yang lain saling menjelaskan.


B.     Posisi Hadist dalam Studi Islam
Hadis secara bahasa memiliki makna baru (jadid) atau berita (khabar). Term hadis dalam Al-Qur’an disebutkan dalam berbagai tempat dan kesemuanya merujuk pada makna khabar. Hadis dari segi bentuknya dibagi menjadi tiga yaitu hadis qauliy (perkataan), hadis fi’liy (perbuatan) hadis taqririy (persetujuan).
Selain term hadis, adapula term lain yang digunakan sebagai pembanding term hadis antara lain:
1.      Sunnah secara bahasa mempunyai pengertian perjalanan, kebiasaan baik atau buruk ketentuan ilahi dalam mengatur makhluk-nya.
2.      Khabar secara bahasa memiliki pengertian sesuatu yang dinukil dan dibicarakan atau berita yang disampaikan dari satu orang ke orang lainnya.
3.      Atsar secara bahasa yaitu jejak atau bekas
Dari sini bisa diambil kesimpulan bahwa kedudukan hadis terhadap al-qur’an secara umum adalah sebagai penjelas (bayan). Secara terperinci fungsi hadis terhadap al-qur’an adalah:
a.       Bayan taqrir, menetapkan dan memperkuat apa yang telah diterangkan dalam Al-Qur’an.
b.      Bayan tafsir, memberikan rincian dan tafsiran terhadap ayat-ayat dalam Al-Qur’an yang masih besifat global (mujmal), memberikan persyaratan atau batasan (taqyid) ayat-ayat Al-Quran yang bersifat mutlak, dan mengkhususkan (takhshish) ayat Al-Qur’an yang masih bersifat umum.
c.       Bayan tasyri’, mewujudkan suatu hukum atau ajaran-ajaran yang tidak didapati dalam Al-Qur’an atau dalam Al-Qur’an hanya terdapat pokok-pokoknya saja.
d.      Bayan naskh, menghapuskan ketentuan yang terdapat dalam Al-Qur’an.

C.    Pandangan Teologi tentang Al-Qur’an dan Hadis
           Teologi adalah ilmu yang membicarakan tentang Tuhan dan pertaliannya dengan manusia baik berdasarkan kebenaran wahyu atau berdasarkan penyelidikan akal murni. Karena pandangan hidup (teologi) seorang muslim berdasarkan Al-Qur’an dan Al-Sunnah maka yang menjadi dasar fundamental dalam studi islam adalah Al-Qur’an dan hadis itu sendiri. Al-Qur’an diyakini mengandung kebenaran yang mutlak yang bersifat transisdental, universal dan eternal (abadi). Sehingga secara akidah diyakini oleh pemeluknya akan sesuai dengan fitrah manusia artinya memenuhi kebutuhan manusia kapanpun dimanapun.


BAB XII
MACAM – MACAM PENDEKATAN DALAM STUDI ISLAM [1]

A.   Pendekatan Sosiologis
     Sosiologis adalah ilmu yang mempelajari hidup bersama dengan masyarakat dan menyelidiki ikatan – ikatan manusia yang mengusasai hidupnya.Sosiologi dapat digunakan sebagai salah satu pendekatan dalam memhami agama, karena banyak kajian dalam bidang agama yang baru dapat dipahami secara proporsional dan tepat apabila menggunakan ilmu sosiologi.Pendekatan sosiologi dapat di bedakan daari pendekatan studi agama lainya karena fokus perhatianya pada interaksi antara agama dan masyarakat. Studi sosiologi terhadap agama tidak hanya memberi perhatian dan depensi keyakinan kdan komunitas keagamaan terhadap kekuatan dan proses sosial. Kebanyakan sosiolgi mengakui bahwa ilmu tentang masyarakat memuat kecenderungan anti realigius.
     Dalam upaya melihat dimana letakperbedaan teori fungsionalisme, teori konflik dan interaksionalisme dalam melihat masalah sosial maka perlu terlebih dahulu kita melacak tradisi pikir yang berkembang dalam literatur sosiologi

B    Pendekatan Historis
     Sejarah berasal dari kara Arab syajarah (pohon) dan history dalam bahasa inggris yang berarti cerita atau kasih. Kajian dengan objek peristiwa yang terjadi di masa lalusecara disiplin ilmuharus menggunakan pendekatan sejarah, adapun karakteristik sejarah sebagai pendekatan, yaitu sebagai sebuah kerangka metodologi di dalam pengkajian atau sesuatu masalah.Agama dan sejarah tidak dapat di pisahkan.Sebab, sejarah manusia sesungguhnya adalah sejarah agama.
     Kajian agama, termasuk Islaam, yang dilakukan oleh sarjana barat dengan menggunakan ilmu-ilmu sosial dan humanities, sehingga muncul sejarah agama, psikologi agama, sosiologi agama, antropologi agama, dll. Sementara itu agama atau keaganaab sebagai sistem kepercayaan dalam kehidupan umat manusia dapat dikaji melalui berbagai sudut pandang
     Sejarah sebagai ilmu tentu saja mempunyai metode sendiri, yang harus digunakan oleh seorang sejarawan dalam menulis sesuatu peristiwa.Ilmu sejarah sendiri memiliki sifat yang diakronis atau memanjang dalam waktu.Seorang sejarawan dapat menggunakan model penulisan.
     Melalui pendekatan sejarah seorang diajak untuk memasuki keadaan yang sebenarnya berkenaan dengan peristiwa. Dengan menggunakan pendekatan sejarah adalima teori yang digunakan yaitu
1.  idealisme approach
2.  Reductionalist approach
3.  Diakronik
4.  Sinkronik
5.  Teori
     Pendekatan sejarah pada hakekatnya merupakan upaya melihat masa lalu melalui msa kini dengan
1.  Pemilihan Topik
2.  Pengumpulan Sumber
3.  Verifikasi
4.  Interpretasi
5. Penulisan

C.   Pendekatan Psikologis
       Pendekatan psikologis sebenarnya sama dengan pendekatan psikologis Islam, perbedaannya hanya pada beberapa dasarnya dan ruang lingkupnya yang lebih sempit. Pendekatan psikologis bertujuan untuk menjelaskan keadaan jiwa seseorang.





Bab XIII Macam-macam Pendekatan Studi Islam.

A.    Pendekatan Teologis Normatif
Pendekatan teologis normatif dalam pemahaman keagamaan adalah pendekatan studi Islam yang memandang masalah dari sudut legal formal dan atau normatifnya.Maksud legal formal adalah hubungan dengan halal-haram, boleh atau tidak, dan sejenisnya. Sementara normatifnya adalah seluruh ajaran yang terkandung dalam nash. Pada hakekatnya, ilmu Teologi membahas berbagai masalah ketuhanan dengan menggunakan logika dan filsafat. Adapun pembahasan yang diusung dalam aliran teologi dalam dunia Islam menyangkut hal-hal sebagai berikut:
1.      Konsep Iman
2.      Konsep Keesaan
3.      Konsep Kehendak Mutlak Tuhan
4.      Konsep Kehendak Bebas Manusia
5.      Konsep Keadilan Tuhan
6.      Konsep Kasb Manusia
7.      Konsep Melihat Tuhan di Akhirat
8.      Konsep Janji dan Ancaman Tuhan
9.      Konsep Urgensi Wahyu
10.  Konsep Status al-Qur’an
B.     Pendekatan Filologis
Filologis berasal dari kata dalam bahasa Yunani, yaitu kata “philos” yang berarti “cinta” dan “logos” diartikan “kata”. Pada kata “filologis” kedua kata itu secara harfiyah membentuk arti “cinta kata-kata” atau “senang belajar” atau “senang kebudayaan”. Sedangkan dalam bahasa Arab, filologi adalah ilmu tahqiq an-nushush (penelitian untuk mengetahui hakikat suatu tulisan).Kegiatan filologi yang menitik beratkan pada bacaan yang salah ini disebut dengan filologi tradisional. Beberapa langkah yag harus dilakukan dalam hal ini adalah:
1.      Inventarisasi Naskah
2.      Deskripsi Naskah
3.      Pengempolokan dan Perbandingan Teks
4.      Transliterasi
5.      Terjemahan
6.      Analisis
C.     Pendekatan Hukum Islam
Istilah “Hukum Islam” merupakan rangkaian kata yang popular dan dipergunakan dalam bahasa Indonesia. Dalam pembicaraan tentang hokum Islam yang terdapat dalam literature bahasa Arab adalah “fiqh” dan “syariat” atau “hokum syara”. Para ahli hokum Islam mendefinisikan fikih adalah ilmu pengetahuan tentang hokum-hukum syara’ yang bersifat operasional (amaliyah) yang dihasilkan dari dalil-dalil yang terpecaya.


Perkembangan hokum islam sendiri terbagi menjadi empat periode:
1.      Periode Rasulullah
2.      Periode Sahabat
3.      Periode Ijtihad
4.      Periode Taqlid
D.    Pendekatan Antropologis
Pendekatan antropologi tidak dapat dipisahkan dari disiplin ilmu Antropologi karena pendekatan banyak mengadopsi dari disiplin ilmu tersebut. Antropologi sendiri secara etimologis berasal dari bahasa Yunani , yaitu kata anthropos yang berarti “manusia” atau “orang”, dan logos yang berarti “wacana” (dalam pengertian “bernalar”, “berakal”) antropologi mempelajari manusia sebagai makhluk biologis sekaligus makhluk sosial.  Langkah dan tahapan pendekatan antrologi dalam studi Islam memiliki empat ciri fundamental
1.      Deksriptif
2.      Local praktis
3.      Kertekaitan antar domain kehidupan secara lebih utuh
4.      Komparatif

E.     Pendekatan Teologis Normatif
Pendekatan teologis normatif dalam pemahaman keagamaan adalah pendekatan studi Islam yang memandang masalah dari sudut legal formal dan atau normatifnya.Maksud legal formal adalah hubungan dengan halal-haram, boleh atau tidak, dan sejenisnya. Sementara normatifnya adalah seluruh ajaran yang terkandung dalam nash. Pada hakekatnya, ilmu Teologi membahas berbagai masalah ketuhanan dengan menggunakan logika dan filsafat. Adapun pembahasan yang diusung dalam aliran teologi dalam dunia Islam menyangkut hal-hal sebagai berikut:
11.  Konsep Iman
12.  Konsep Keesaan
13.  Konsep Kehendak Mutlak Tuhan
14.  Konsep Kehendak Bebas Manusia
15.  Konsep Keadilan Tuhan
16.  Konsep Kasb Manusia
17.  Konsep Melihat Tuhan di Akhirat
18.  Konsep Janji dan Ancaman Tuhan
19.  Konsep Urgensi Wahyu
20.  Konsep Status al-Qur’an
F.      Pendekatan Filologis
Filologis berasal dari kata dalam bahasa Yunani, yaitu kata “philos” yang berarti “cinta” dan “logos” diartikan “kata”. Pada kata “filologis” kedua kata itu secara harfiyah membentuk arti “cinta kata-kata” atau “senang belajar” atau “senang kebudayaan”. Sedangkan dalam bahasa Arab, filologi adalah ilmu tahqiq an-nushush (penelitian untuk mengetahui hakikat suatu tulisan).Kegiatan filologi yang menitik beratkan pada bacaan yang salah ini disebut dengan filologi tradisional. Beberapa langkah yag harus dilakukan dalam hal ini adalah:
7.      Inventarisasi Naskah
8.      Deskripsi Naskah
9.      Pengempolokan dan Perbandingan Teks
10.  Transliterasi
11.  Terjemahan
12.  Analisis
G.    Pendekatan Hukum Islam
Istilah “Hukum Islam” merupakan rangkaian kata yang popular dan dipergunakan dalam bahasa Indonesia. Dalam pembicaraan tentang hokum Islam yang terdapat dalam literature bahasa Arab adalah “fiqh” dan “syariat” atau “hokum syara”. Para ahli hokum Islam mendefinisikan fikih adalah ilmu pengetahuan tentang hokum-hukum syara’ yang bersifat operasional (amaliyah) yang dihasilkan dari dalil-dalil yang terpecaya.

Perkembangan hokum islam sendiri terbagi menjadi empat periode:
5.      Periode Rasulullah
6.      Periode Sahabat
7.      Periode Ijtihad
8.      Periode Taqlid


H.    Pendekatan Antropologis
Pendekatan antropologi tidak dapat dipisahkan dari disiplin ilmu Antropologi karena pendekatan banyak mengadopsi dari disiplin ilmu tersebut. Antropologi sendiri secara etimologis berasal dari bahasa Yunani , yaitu kata anthropos yang berarti “manusia” atau “orang”, dan logos yang berarti “wacana” (dalam pengertian “bernalar”, “berakal”) antropologi mempelajari manusia sebagai makhluk biologis sekaligus makhluk sosial.  Langkah dan tahapan pendekatan antrologi dalam studi Islam memiliki empat ciri fundamental
5.      Deksriptif
6.      Local praktis
7.      Kertekaitan antar domain kehidupan secara lebih utuh
8.      Komparatif